mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini58
mod_vvisit_counterKemarin29
mod_vvisit_counterMinggu ini181
mod_vvisit_counterMinggu lalu220
mod_vvisit_counterBulan ini668
mod_vvisit_counterBulan lalu1554
mod_vvisit_counterTotal361328
Polling
Komentar anda tentang website PPSW Sumatra ini
 

BANGKO – Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) dan anak kini tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan isu social lainnya. Itu juga fenomena global, kekerasan terhadap perempuan dan anak juga menjadi agenda komunitas internasional dan resmi diakui sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Dalam penyampaiannya koordinator program PPSW, Juliana S.pi mengatakan. Komnas Perempuan mencatat selama 12 Tahun terhitung dari 2001- 2012, sedikitnya ada 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap hari.

Disambungnya, pada tahun 2012, setidaknya telah tercatat 4,336 kasus kekerasan seksual, dimana 2,920 kasus diantaranya terjadi di ranah publik/komunitas, dengan mayoritas bentuknya adalah perkosaan dan pencabulan (1620). Usia korban ditemukan semakin muda yakni antara usia 13–18 tahun.

Kekerasan Seksual diakuinya, menjadi lebih sulit untuk diungkap dan ditangani dibanding kekerasan terhadap perempuan lainnya, karena sering dikaitkan dengan konsep moralitas masyarakat. Perempuan dianggap sebagai simbol kesucian dan kehormatan, karenanya ia kemudian dipandang menjadi aib ketika mengalami kekerasan seksual, misalnya perkosaan. Korban juga sering disalahkan sebagai penyebab terjadinya kekerasan seksual.

Last Updated (Monday, 22 February 2016 11:15)

Read more...

 

BANGKO – Ratusan perempuan di Bagansiapiapi dari berbagai kalangan baik orang tua, dewasa dan remja turut meramaikan acara “One Billion Rising” atau Kampanye anti kekerasan seksual dan kekerasan terhadap perempuan. Acara diselenggarakan di Taman Kota, Bagansiapiapi, Minggu (14/2/16) pagi.

Saat dikonfirmasi, Rani (18) salah satu peserta acara tersebut, menjelaskan. Saya datang kesini atas partisifasi saya pribadi, yang sebelumnya saya mendapat kabar baik ini dari teman satu kelas saya, yang mana dia mengajak saya untuk turun dihari minggu pagi dan berkumpul ditaman kota dalam acara Kampanye anti kekerasan seksual dan kekerasan terhadap perempuan.

“Ini acara bagus, saya sangat tertarik. Ini akan menjadi motifasi kita sebagai wanita untuk menyuarakan stop segala macam kekerasan terhadap perempuan serta anak,” kata Rani, remaja yang masih duduk dibangku sekolah ini.

Ditambahkan Rani kembali, kalau tak salah acara ini baru pertama kali diadakan di Rohil. Semoga acara ini bisa ada setiap tahunnya guna menyemangati setiap wanita terutamanya kaum Ibu-ibu dalam kehidupan berumah tangga dan sekaligus dapat melindungi anak.

“Kita sangat prihatin dengan kehidupan para wanita terutamanya kaum Ibu, karena kekerasan bisa menimpah mereka kapan saja. Ayooo… suarakan, lawan kekerasan terhadap kaum wanita,” tutupnya.(emel)

 

Posted: 10:05 am, Februari 14, 2016

Sumber : http://www.gopesisir.com

 

Last Updated (Monday, 22 February 2016 11:15)

 

ONE BILLION RISING
My Body My Revolution
“PEREMPUAN MELAWAN KEKERASAN”
Rokan Hilir – 14 Februari 2016

Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan isu social lainnya. KTP juga fenomena global. Kekerasan terhadap perempuan juga menjadi agenda komunitas internasional dan resmi diakui sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Dalam keluarga atau masyarakat miskin, perempuan menjadi pihak yang paling rentan, menanggung beban paling berat untuk pemenuhan kebutuhan keluarga. Kasus-kasus perdagangan orang, praktek migrasi yang didominasi perempuan, tingginya Kekerasan Terhadap Perempuan/KDRT, rendahnya derajat kesehatan anak perempuan dan perempuan, rendahnya tingkat pendidikan anak perempuan dibanding anak laki-laki, tingginya Angka Kematian Ibu melahirkan, bayi baru lahir dan balita adalah bukti nyata, betapa perempuan menjadi pihak yang paling menderita dan mengalami kekerasan.
Kekerasan Seksual menjadi lebih sulit untuk diungkap dan ditangani dibanding kekerasan terhadap perempuan lainnya karena sering dikaitkan dengan konsep moralitas masyarakat. Perempuan dianggap sebagai simbol kesucian dan kehormatan, karenanya ia kemudian dipandang menjadi aib ketika mengalami kekerasan seksual, misalnya perkosaan. Korban juga sering disalahkan sebagai penyebab terjadinya kekerasan seksual. Ini membuat perempuan korban seringkali bungkam.
Catatan Tahunan (Catahu) tahun 2015, (Komnas Perempuan) menyebut 1.033 kasus perkosaan, 834 kasus pencabulan, 184 kasus pelecehan seksual, 74 kasus kekerasan seksual lain, 46 kasus melarikan anak perempuan, dan 12 kasus percobaan perkosaan.

 

Last Updated (Monday, 22 February 2016 11:17)

Read more...

 
Translator


Internal Link
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Jakarta, Indonesia