WILAYAH KERJA

PPSW Sumatra telah melakukan pengorganisasian masyarakat di 2 propinsi, meliputi Aceh dan Riau. Di propinsi Riau, kegiatan pengorganisasian masyarakat telah dimulai pada tahun 1987 yang dilakukan oleh Asosiasi PPSW dan saat ini dilanjutkan oleh PPSW Sumatra. Sedangkan di propinsi Aceh, kegiatan pengorganisasian masyarakat telah dimulai sejak tahun 1987 hingga 1990. Setelah vakum beberapa tahun, kegiatan pendampingan di Aceh dilanjutkan kembali oleh PPSW Sumatra pada tahun 2006 sampai sekarang. Secara lebih detil Wilayah kerja PPSW Sumatera meliputi:


ACEH

Kondisi Geografis

Provinsi Aceh terletak di bagian barat Indonesia tepatnya di bagian ujung Pulau Sumatera. Secara geografis Aceh terletak antara 2-6 derajat lintang utara dan 95' 98’ derajat lintang selatan dengan ketinggian rata-rata 125 meter diatas permukaan laut. Batas-batas wilayah Aceh, sebelah utara dan timur berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah selatan dengan Provinsi Sumatera Utara dan sebelah barat dengan Samudra Hindia. Satu-satunya hubungan darat hanyalah dengan Provinsi Sumatera Utara sehingga memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan provinsi tersebut. Luas wilayah Aceh sebesar 57.365,57 Km2 atau 12,26% dari luas Pulau Sumatera.

Provinsi Aceh sebagian besar wilayahnya adalah berupa hutan, luasnya mencapai 35.239,25 km2 (61,43%), perkebunan seluas 74.251,1 km2 (12,95%), Persawahan seluas 31.184,9 km2 (5,44%) , Kebun seluas 30.559,1 km2 (5,33%) , Padang rumput seluas 22.972,6 km2 (4%) , Perkampungan seluas 11.758,2 km2 (2,05%) (BPN NAD 2008).

Wilayah kerja PPSW Sumatra di Aceh meliputi 5 Kecamatan pada 4 Kabupaten yaitu Kecamatan Indra puri Kabupaten Aceh Besar, Kecamatan Sakti  dan Tiro Kabupaten Pidie, Kecamatan Samalanga Kabupaten Biureun dan Kecamatan Idi Tunong Kabupaten Aceh Timur.


Kondisi Ekonomi

Jumlah penduduk Aceh sekitar 4,2939 juta terdiri dari 2,1361 juta laki-laki dan 2,1579 juta perempuan (BPS Aceh 2008). Jumlah penduduk miskin di Aceh sekitar 892.900 orang (21,80%) (BPS Indonesia 2008). Mata pencaharian utama penduduk Aceh adalah petani, nelayan, pedagang, pegawai/ buruh, industri kecil.

Tingkat buta huruf masyarakat secara umum masih tinggi yaitu pada kelompok umur 10 tahun keatas berjumlah 3,61% (BPS Aceh 2008), kelompok umur 15 tahun keatas berjumlah 4,06% (BPS Indonesia 2008). Tingginya angka buta huruf masyarakat antara lain disebabkan oleh kemiskinan dan banyaknya lokasi terpencil yang tidak ada alat transportasi.

Potensi Sumberdaya Alam

Aceh mempunyai kekayaan sumber alam seperti minyak bumi dan gas alam . Sumber alam itu terletak di Aceh Utara dan Aceh Timur. Aceh juga terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, sampai Seulawah, Aceh Besar. Sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) juga terdapat di Aceh Tenggara.

 

RIAU

Kondisi Geografis

Riau adalah salah satu propinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatra dengan ibu kota Pekanbaru. Wilayah kerja PPSW Sumatra di Riau berada di kabupaten Rokanhilir, pada 4 kecamatan yaitu Rimba Melintang, Sungai Hampar, Bangko dan Sinaboi. Peta lokasi Kabupaten Rokan Hilir terletak pada Koordinat : 1°14'–2°45' LU, 100°17'–101°21' BT. Ibu kota Kabupaten Rokan hilir adalah Bagan Siapi-api yang merupakan kota tua dan terkenal sebagai penghasil ikan laut.

Berdasarkan data dari Kanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi Riau, provinsi ini memiliki luas area sebesar 8.915.015,09 ha (89,150 km2). Keberadaannya membentang dari lereng Bukit Barisan sampai dengan Selat Malaka, terletak antara 01o05'00’’ Lintang Selatan sampai 02o25'00’’ Lintang Utara atau antara 100o00'00’’ Bujur Timur-105o05'00’’ Bujur Timur.

Sedangkan luas wilayah kabupaten Rokan hilir meliputi 896.142,93 ha (8,961 km2) dengan jumlah penduduk 440.894 (2004). KabuRokan Hilir terdiri dari 13 kecamatan dan 83 desa.


Kondisi Sosial Ekonomi

Jumlah penduduk Riau (proyeksi 2008) sekitar 5.189.154 jiwa terdiri dari 2.735.828 jiwa laki-laki dan 2.453.326 jiwa perempuan (BPS Riau 2008). Jumlah penduduk miskin sekitar 527.500 orang (9,48%). Mata pencaharian utama penduduk Riau lebih dari 50% adalah petani, sisanya berprofesi sebagai nelayan, pedagang, pegawai/ buruh dan industri kecil.

Tingkat buta huruf masyarakat di Riau secara umum adalah 2,24%.

Potensi Sumberdaya Alam

Riau kaya akan sumber daya alam, baik kekayaan minyak bumi, hutan, perkebunan, sungai dan laut.
Bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah, propinsi Riau sejak tahun 1998 melakukan pemekaran di beberapa wilayah, salah satunya adalah Bagan siapi-api. Sebagai wilayah yang berada di kecamatan Bangko kabupaten Bengkalis, Bagan Siapi-api pada tahun 2000 berubah status menjadi ibukota kabupaten Rokan Hilir.

 

KEGIATAN PENGORGANISASIAN MASYARAKAT

PPSW Sumatra melakukan Pengorganisasian Masyarakat dengan menerapkan 4 pilar pengorganisasian yaitu menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat, meningkatkan kapasitas perempuan basis, Membangun jaringan kerja strategis dan advokasi kebijakan.

Sedangkan Kerangka pemberdayaan perempuan yang dipergunakan oleh PPSW Sumatra dalam mencapai visi, misi dan tujuannya adalah memenuhi kebutuhan praktis dan strategis jender dengan menggunakan 5 tahapan :

  • Pemenuhan kebutuhan dasar
  • Peningkatan akses terhadap sumberdaya
  • Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan
  • Peningkatan Kesadaran kritis
  • Peningkatan kontrol terhadap sumberdaya

Kegiatan yang telah dilakukan

Peningkatan Kapasitas

  • Pelatihan Motivasi Kelompok,
  • Pelatihan Penyadaran Hak Kesehatan Reproduksi
  • Pelatihan penyadaran jender
  • Pelatihan kepemimpinan
  • Pelatihan pembukuan koperasi
  • Pelatihan CO
  • Pelatihan TOT Pendidikan Pemilu
  • Pelaihan TOT Kesehatan Reproduksi
  • Diskusi penyadaran hukum
  • Pertemuan rutin kelompok
  • Diskusi tematik kesehatan reproduksi
  • FGD Pengembangan usaha
  • Pendidikan Keuangan Untuk Perempuan Matang
  • Studi banding ke pengusaha mikro, emping, kue tradisional, jamu, menjahit
  • Temu Ria Anggota

 

Pelatihan Teknik Usaha

  • Emping melinjo,
  • Menjahit,
  • Membuat kue tradisional,

Pengembangan usaha produktif :

  • Emping melinjo,
  • Menjahit,
  • Membuat kue tradisional,
  • Anyaman tikar purun dan bambu
  • Bordir

 

Pengembangan Koperasi

  • Pemupukan modal melalui kegiatan simpan pinjam
  • Peningkatan modal melalui pinjaman RF
  • Peningkatan modal melalui BLM (BOT)

 

Produksi Media CO

  • Poster Penghapusan KDRT
  • Poster POD
  • Poster CO
  • Poster Kesehatan Reproduksi
  • Lefket Kesehatan Reproduksi
  • Video CO

 

Advokasi

  • Dialog Publik : Menuju Pemilu yang demokratis , adil dan jujur dengan Para Parpol peserta Pemilu.
  • Dialog publik : Pemenuhan hak-hak sipil dalam kepemilikan dokumen identitas diri dengan Mahkamah syariah, Badan Kependudukan dan Catatan Sipil, Pengadilan Negri
  • Pendampingan proses pembuatan Akte kelahiran dan Itsbat nikah,
  • Dialog Publik kebijakan Peningkatan Kesehatan Perempuan dan Pencegahan Penularan HIV/ Aids dengan Bupati, Komisi Aids Kabupaten dan Rumah sakit.
  • Mengikuti Musrenbang tingkat desa, kecamatan dan kabupaten untuk usulan program kesehatan, ekonomi, Pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

 

Networking

  • Membangun kerjasama dengan multi stakeholder
  • Membangun kerjasama dengan pengusaha

 

Jumlah kelompok

Jumlah kelompok yang didampingi sampai bulan Desember 2012 berjumlah 89 kelompok dengan total anggota 2.747 orang, yang terdiri dari 42 kelompok dengan total anggota sekitar 1.062 orang berada di kabupaten Rokan hilir - Riau. Sedangkan jumlah kelompok di Aceh ada 47 dengan total anggota 1685 orang.

Jumlah koperasi atau LKM yang telah berbadan hukum ada 8 buah yang berada di Riau 4 buah dan di Aceh 4 buah.

 

Jenis Usaha Anggota

RIAU

  • Padi, palawija, sawit
  • Peternakan: ayam buras, bebek, ikan air tawar
  • Produksi makanan ringan khas Melayu
  • Pedagang pakaian dan kebutuhan pokok
  • Penjahit & bordir pakaian
  • Produk kerajinan: Anyaman tikar purun

ACEH

  • Pertanian: padi, palawija
  • Peternakan: ayam buras, bebek, kambing, sapi
  • Produksi makanan ringan : Emping melinjo
  • Pedagang pakaian dan kebutuhan pokok
  • Penjahit & bordir pakaian
  • Produk kerajinan: Anyaman bambu, Bordir tas, dompet, sandal, dan peralatan untuk pernikahan khas Aceh.

 

 

PENGALAMAN ORGANISASI

Secara umum ada beberapa kegiatan yang telah dilakukan sejak masih tergabung di asosiasi PPSW sampai sekarang, yaitu :

Riau

  • Program Pendidikan Keuangan Untuk Perempuan Matang, mendapat dukungan dana dari Citi Foundation, sejak tahun 2012 - 2013.
  • Peningkatan Kesehatan Perempuan dan anak serta Pencegahan Penularan HIV/ Aids, mendapat dukungan dana dari GFW sejak Juli 2012 - Juni 2013.
  • Program pemberdayaan perempuan melalui penguatan “kepemimpinan perempuan” dengan metode pendidikan orang dewasa, di semua wilayah dampingan PPSW di kabupaten Rokan Hilir. Didukung oleh IIZ/DVV Jerman dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2011.
  • Pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan ekonomi produktif di Rokan hilir- Riau, di desa Teluk Bano (Rimbo Melintang) dan desa Sungai Nyamuk (Sinaboi) bekerjasama dengan DAP Australia (2008 – 2009).
  • Tahun 1998 fokus pendampingan berkembang ke isu kesehatan yang dilaksanakan di Bagan, kecamatan Bangko dan Rimbo Melintang melalui program “kesehatan reproduksi”, dengan dukungan dana dari the Ford Foundation, sampai dengan tahun 2005.
  • Bagan Siapi-api sejak tahun 1993 mulai didampingi secara intensif melalui program pemberdayaan perempuan dengan fokus “Perbaikan Kesejahteraan Keluarga melalui Pengembangan Usaha Kecil”. Di kecamatan Bangko: Bagan, desa Parit Aman, dan desa Bantayan. Kecamatan Rimbo Melintang: desa Mukti Jaya dan desa Bangko Jaya. Program berjalan selama 3 tahun (September 1993 – Oktober 1996). Dengan dukungan dana dari USAID.
  • Program lainnya yang pernah dilaksanakan di Bagan Siapi-api adalah “Pemberdayaan Perempuan di Pedesaan melalui Kegiatan Ekonomi” selama 2 tahun (Maret 1998-Agustus 1999), di desa Parit Aman, Bantayan, Bangko Jaya, dan Muktijaya. Dengan dukungan dana dari Canada Fund For Local Initiative (CFLI).
  • Sejak PPSW masuk ke kabupaten Bengkalis tahun 1987, wilayah yang pertama kali didampingi adalah daerah Bagan Siapi-api, khususnya di desa Parit Aman, kecamatan Bangko melalui proyek “Konseling dan Pengembangan Kegiatan Ekonomi Produktif bagi Perempuan di Daerah Pantai untuk Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga” yang didukung dana dari SDC dan CIDA Proyek berjalan dalam waktu 3 tahun (Maret 1987 – Maret 1990).

 

Aceh

  • Program Pendidikan Keuangan Untuk Perempuan Matang, mendapat dukungan dana dari Citi Foundation, sejak tahun 2012 - 2013.
  • Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat di Wilayah Pasca Konflik, mendapat dukungan dari PNPM Peduli, kerjasama ACE dan PSF, sejak Nopember 2011 - Mei 2013.
  • Maret 2009 - Agustus 2010: Pemberdayaan Perempuan Aceh, melalui Penguatan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di 42 desa yang tersebar di 4 kecamatan/kabupaten: Idi Tunong (Aceh Timur), Samalanga (Bireun), Sakti (Pidie), dan Indrapuri (Aceh Besar), bekerjasama dengan TAF.
  • Maret 2008 - Nopember 2009: Program Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam proses Pengambilan Keputusan, di 42 desa yang tersebar di 4 kecamatan/kabupaten: Idi Tunong (Aceh Timur), Samalanga (Bireun), Sakti (Pidie), dan Indrapuri (Aceh Besar).
  • Maret 2006 – September 2007: Program Pemulihan kondisi sosial ekonomi masyarakat Aceh pasca Tsunami dan Perjanjian Damai, di 70 desa yang tersebar di 7 kecamatan /kabupaten: Idi Tunong (Aceh Timur), Samalanga (Bireun), Sakti (Pidie), Indrapuri (Aceh Besar), Darul Makmur (Nagan Raya), Kuala Batee (ABDYA), Labuhan Haji Barat (Aceh Selatan). Bekerjasama dengan The Asia Foundation (TAF).
  • Juli - Desember 1990 : Proyek penyediaan air bersih, bekerjasama dengan Dana Mitra Lingkungan (DML), di desa Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah.
  • Desember 1987 - Desember 1990 : PPSW bekerja sama dengan CIDA mendampingi perempuan Aceh melalui proyek pengembangan usaha emping melinjo di empat desa di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie.

Last Updated (Tuesday, 25 June 2013 15:20)