Dalam rangka memperingati hari Kekerasan Seksual Dan Hari Kekerasan Terhadap Perempuan yang bertepatan tanggal 14 Februari PPSW Sumatra dan berbagai LSM yang ada di Indonesia dan seluruh dunia mengadakan acara ONE BILLION RISING dengan tema”My Body My RevolutiKegiatan ini di adakan di Taman Kota Bagansiapiapi dan di buka langsung oleh Asisten III Pemerintah daerah kabupaten Rokan Hilir,Ali Asfar.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan aspirasi dan dukungan terhadap PPSW Sumatra yang telah mengadakan kegiatan tersebut. Beliau juga berharap kegiatan serupa bisa terus terlaksana setiap tahunnya dan tidak hanya berhenti sampai di sini saja agar kekerasan seksual dan kekerasasn terhadap Perempuan bisa di cegah.

Kita semua tidak kaum hanya perempuan saja tentu laki laki harus sepakattuntuk melaksanakan kegiatan ini supaya kekerasan seksual dan kekerasan terhadap perempuan tidak ada lagi di kabupaten Rokan Hilir ini, ujar beliau.

Sementara itu, Juliana, Koordinator Program Ppsw Sumatra mengatakan Komnas Perempuan mencatat selama 12 Tahun terhitung dari 2001- 2012, sedikitnya ada 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap hari.

Disambungnya, pada tahun 2012, setidaknya telah tercatat 4,336 kasus kekerasan seksual, dimana 2,920 kasus diantaranya terjadi di ranah publik/komunitas, dengan mayoritas bentuknya adalah perkosaan dan pencabulan (1620). Usia korban ditemukan semakin muda yakni antara usia 13–18 tahun.

Kekerasan Seksual diakuinya, menjadi lebih sulit untuk diungkap dan ditangani dibanding kekerasan terhadap perempuan lainnya, karena sering dikaitkan dengan konsep moralitas masyarakat.
“Ini yang membuat perempuan korban seringkali bungkam,” ujar Juliana.

 

Perempuan dianggap sebagai simbol kesucian dan kehormatan, karenanya ia kemudian dipandang menjadi aib ketika mengalami kekerasan seksual, misalnya perkosaan. Korban juga sering disalahkan sebagai penyebab terjadinya kekerasan seksual.Sedangkan jenis kekerasan sambungnya, ada 15 jenis kekerasan seksual yang ditemukan Komnas Perempuan dari hasil pemantauannya selama 15 tahun (1998– 2013) belakangan ini, yakni.
1. Perkosaan;
2. Intimidasi Seksual termasuk Ancaman atau Percobaan Perkosaan;
3. Pelecehan Seksual;
4. Eksploitasi Seksual;
5. Perdagangan Perempuan untuk Tujuan Seksual;
6. Prostitusi Paksa;
7. Perbudakan Seksual;
8. Pemaksaan perkawinan, termasukcerai gantung;
9. Pemaksaan Kehamilan;
10. Pemaksaan Aborsi;
11. Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi;
12. Penyiksaan Seksual;
13. Penghukuman tidak manusiawi danbernuansa seksual;
14. Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan;
15. Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

Ke 15 bentuk kekerasan seksual ini bukanlah daftar final, karena ada kemungkinan sejumlah bentuk kekerasan seksual yang belum kita kenali akibat keterbatasan informasi mengenainya.

Tahun ini jelasnya kembali,  kita harus mengambil langkah yang lebih jauh dengan menciptakan ‘Revolusi’. Kita telah menari, kita telah menuntut keadilan, sekarang kita akan menuntut ‘Perubahan’ dan ‘Perubahan’ hanya akan dapat tercapai melalui aksi yang lebih berani, tegas, kreatif serta perubahan yang radikal dari cara pandang masyarakat.

“Menari adalah sebuah bentuk perlawanan, menari itu penuh dengan unsur kegembiraan, menular serta bebas dilakukan oleh siapapun dan dimana pun. Lakukan perubahan lawan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tandas Juliana

Last Updated (Monday, 22 February 2016 11:14)